LIPUTANTANJAB.COM – Beriringan dengan aksi bersih-bersih Sungai Pengabuan, Mapala Pamsaka turut melaksanakan kegiatan edukasi lingkungan bagi warga Kelurahan Kampung Nelayan, khususnya di RT 05 dan RT 09, Sabtu 22/11/2025). Kegiatan ini dilakukan pada pagi hari, bersamaan waktunya dengan aksi bersih sungai, namun dengan peserta berbeda, yaitu warga setempat.
Jika aksi bersih diikuti Mapala Pamsaka serta komunitas pecinta alam se-Provinsi Jambi, maka edukasi lingkungan ini difokuskan kepada masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan sehari-hari berhadapan langsung dengan persoalan sampah dan pencemaran.

Dokumentasi aksi bersih bersama warga
“Kami membagi peran. Komunitas pecinta alam bergerak membersihkan sungai, sementara warga kami edukasi agar memahami akar permasalahan dan solusinya. Tanpa perubahan perilaku masyarakat, Sungai Pengabuan tidak akan pulih,” ujar salah satu aktivis Pamsaka.
Edukasi lingkungan ini menghadirkan Muhammad Windi, S.H. sebagai pemateri utama. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa persoalan sampah bukan sekadar masalah kebiasaan, tetapi berkaitan langsung dengan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.
“Sampah yang dibuang ke sungai akan kembali kepada kita dalam bentuk penyakit, banjir, dan rusaknya sumber penghidupan. Perubahan harus dimulai dari rumah dan keluarga,” tegas Windi di hadapan warga.
Materi yang disampaikan meliputi:
Dampak pencemaran sampah terhadap kesehatan dan ekosistem Sungai Pengabuan, Cara memilah sampah organik dan anorganik, Pengurangan sampah rumah tangga melalui prinsip 3R, Pentingnya budaya peduli lingkungan dalam keluarga dan masyarakat
Edukasi ini diikuti oleh warga Kampung Nelayan— mulai dari pemuda, ibu rumah tangga, hingga tokoh masyarakat. Antusiasme terlihat dari sesi tanya jawab yang menyoroti persoalan sehari-hari seperti sampah harian, keterbatasan fasilitas pembuangan, hingga kebiasaan sebagian warga membuang sampah langsung ke sungai.
Bagi Mapala Pamsaka, keterlibatan warga merupakan fondasi penting untuk menciptakan gerakan Zero Waste yang berkelanjutan.
Meski pesertanya berbeda, kegiatan edukasi lingkungan ini tetap mendapat dukungan dari organisasi pecinta alam se-Provinsi Jambi yang sebelumnya mengikuti aksi bersih sungai. Mereka membantu kebutuhan logistik, pendampingan, hingga dokumentasi kegiatan agar rangkaian acara berjalan selaras.
Mapala Pamsaka menegaskan bahwa pemulihan Sungai Pengabuan harus dimulai dari masyarakat yang tinggal di sepanjang alirannya. Melalui edukasi lingkungan ini, diharapkan warga RT 05 dan RT 09 semakin memahami pentingnya menjaga sungai dan berhenti membuang sampah sembarangan.
“Kampung Nelayan harus menjadi contoh perubahan. Sungai Pengabuan tidak bisa menunggu lebih lama,” tegas para aktivis.
Dengan berjalan paralelnya aksi bersih dan edukasi lingkungan, Mapala Pamsaka berharap Gerakan Zero Waste tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan masyarakat yang konsisten dan berkelanjutan.(csl)










