LIVE TV
Isu Tak Berdasar Yang Menerpa Kapolsek Tebing Tinggi Ternyata Hoax Menindaklanjuti Arahan Presiden, Polsek Tebing Tinggi Laksanakan Kurve Cinta Ditolak, Seorang Pria Tewas Gantung Diri Di Tanjab Barat Kapolsek Tebing Tinggi Pimpin Ungkap Kasus Pencurian Aki Mobil Yang Sering Meresahkan Masyarakat Jaringan Pemantau Kewenangan (JPK) Tanjab Barat Survei Produk Bahan Pokok Masyarakat di Pasar Ritel Modern Kuala Tungkal

Home / Kota Jambi / Tanjab Barat

Sabtu, 15 November 2025 - 19:34 WIB

WALHI Jambi Serukan Transisi Energi Berkeadilan di COP 30: Suara Perempuan Jadi Poros Perubahan

LIPUTANTANJAB.COM – Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP 30) berlangsung di Belem, Brazil, dimulai dari tanggal 10 dan puncaknya pada tanggal 21 November 2025. Sabtu 15/11/2025

Eksekutif Daerah WALHI Jambi bersama dengan anggota lembaga dan komunitas menyuarakan peringatan keras mengenai transisi energi yang diklaim tengah berjalan di Indonesia, namun masih menyisakan ketidakadilan ekologis, sosial, dan gender yang nyata di tingkat tapak.

COP 30 digadang-gadang sebagai momentum peninjauan komitmen global terhadap penghentian emisi dan percepatan transisi energi bersih. Namun bagi rakyat di Provinsi Jambi, terutama kelompok rentan seperti perempuan, petani, masyarakat adat, dan nelayan, krisis iklim berlangsung setiap hari di sekitar ruang hidup mereka. Kerusakan lingkungan, pencemaran udara, dan perampasan ruang hidup terus terjadi sementara suara rakyat justru terpinggirkan dari jauh dari meja perundingan.

Di Jambi, perempuan adalah kelompok yang paling merasakan dampak dari krisis iklim dan ekspansi proyek energi kotor. Mulai dari keterbatasan air bersih, pencemaran udara akibat PLTU, hingga perampasan ruang hidup, perempuan memikul beban domestik dan sosial yang berlipat. Mereka harus memastikan kenyamanan keluarga terpenuhi di tengah kondisi lingkungan yang semakin rusak.

Namun, perempuan bukan hanya korban. Mereka adalah penjaga pengetahuan lokal, penggerak ketangguhan komunitas, dan penghadang ekspansi yang merusak ruang hidup. Karena itu, bagi WALHI Jambi, suara perempuan, Petani, dan Masyarakat adat harus ditempatkan sebagai poros utama dalam mendorong transisi energi berkeadilan.

Baca Juga  Semangat Kebersamaan, Warga LDII Jambi Gotong Royong Bersihkan Aula Serbaguna di Muaro Jambi

Di tengah klaim transisi energi, Provinsi Jambi justru terus dibebani dan dipaksakan untuk proyek energi kotor, antara lain:

Desa Aur Kenali dan Mendalo Darat – terdampak pembangunan dan operasi stockpile batu bara di tengah permukiman padat, memicu debu batubara dan mengancam kesehatan dan penurunan kualitas lingkungan hidup rakyat.

Desa Kemingking Dalam (Muaro Jambi) – kawasan stockpile berdiri di dekat Cagar Budaya Nasional Candi Muaro Jambi, situs bersejarah terluas di Asia Tenggara, mengancam keberlangsungan ekologis dan nilai budaya masyarakat.

Desa Semaran (Sarolangun) – berada di lingkar dampak PLTU yang menimbulkan pencemaran udara dan berbagai gangguan kesehatan bagi rakyat.

Oscar Anugrah, Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jambi berpandangan bahwa “Realitas yang terjadi saat ini memperlihatkan bahwa komitmen iklim Indonesia masih jauh dari memutus ketergantungan pada energi kotor. Kebijakan yang dikeluarkan justru membuka jalan bagi ekspansi industri ekstraktif yang merugikan, khususnya rakyat di Provinsi Jambi”. Oscar

menegaskan, “Transisi energi berkeadilan hanya dapat diwujudkan apabila negara kembali ke rakyat dan mendengar suara perempuan. mereka yang setiap hari berhadapan dengan ketidakpastian iklim dan ancaman energi kotor. COP 30 bukan hanya ruang untuk diplomasi, tetapi harus menjadi titik balik untuk memastikan dan mengawal terwujudnya keadilan ekologis, keadilan gender, dan masa depan ruang hidup rakyat Jambi.”

Baca Juga  Bupati Anwar Sadat Deklarasikan Gerakan Anti Judi Online dan Anti Narkoba

rakyat dan mendengar suara perempuan. mereka yang setiap hari berhadapan dengan
ketidakpastian iklim dan ancaman energi kotor. COP 30 bukan hanya ruang untuk diplomasi, tetapi
harus menjadi titik balik untuk memastikan dan mengawal terwujudnya keadilan ekologis,
keadilan gender, dan masa depan ruang hidup rakyat Jambi.”

Aksi kampanye ini dilakukan bersama dengan komunitas yang wilayahnya terdampak energi kotor di Jambi untuk memperkuat solidaritas, mengangkat testimoni perempuan, dan menegaskan kembali bahwa jalan keluar dari krisis iklim bukan berada di ruang diplomasi saja, tetapi berangkat dari suara dan pengalaman rakyat di tapak.Dalam momentum COP 30 ini, WALHI Jambi mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk:

1. Menghentikan sumber utama emisi dan menghentikan perluasan proyek energi kotor energi kotor.

2. Mengakhiri ketergantungan pada industri ekstraktif yang merusak lingkungan dan merampas ruang hidup rakyat.

3. Memastikan kebijakan transisi energi berkeadilan dengan menempatkan perempuan dan kelompok rentan sebagai subjek utama keputusan.

4. Memulihkan wilayah-wilayah yang telah terdampak krisis iklim dan pencemaran industri sektor energi.

Narahubung:Oscar Anugrah- Direktur Ekseskutif Daerah WALHI Jambi: 0811-7492-662

Share :

Baca Juga

Tanjab Barat

Tilang Manual Dihapus, Kapolres Tanjab Barat Jelaskan Prosesnya

Kota Jambi

Usir Wartawan, Forum Jurnalis Jambi Desak Mentan RI Syahrul Minta Maaf Secara Terbuka

Tanjab Barat

Pemuda 19 Tahun Ditemukan Tewas Tenggelam di Perairan Pelabuhan Kuala Tungkal

Tanjab Barat

Bupati Tanjab Barat Sampaikan Pendapat Akhir Atas Keputusan DPRD Terhadap Raperda Pertanggungjawaban APBD TA 2023

Tanjab Barat

Usai di Tabrak Kapal, Sekda Tanjab Barat Cek Langsung Kerusakan Jembatan WFC

Tanjab Barat

Rakor Kerja Gerakan Pramuka, Sekda Tanjab Barat, “Kedepan harus bisa lebih akuntabel”

Tanjab Barat

Bupati Resmikan Jalur Operasional Mobil Sampah Untuk 5 Kecamatan Ditanjab Barat

Tanjab Barat

Pastikan Harga Sembako Stabil, Bupati Tanjab Barat Tinjau Pasar Tradisional
error: Maaf Jangan Biasakan Copas Berita !!