LIPUTANTANJAB.COM – Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi hari ini sukses menyelenggarakan dialog multi-pihak yang berfokus pada penguatan peran anak dalam pembangunan, khususnya melalui pemenuhan hak atas lingkungan yang sehat dan pangan lokal yang berkelanjutan. Acara ini merupakan respons krusial terhadap tantangan global yang semakin kompleks seperti krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi, yang secara signifikan memengaruhi kehidupan anak-anak. Rabu (9/7/25)
Sejalan dengan Konvensi Hak Anak PBB yang telah diratifikasi Indonesia, inisiatif ini bertujuan memastikan anak-anak, terutama mereka yang tinggal di komunitas adat dan pedesaan, tidak hanya terlindungi tetapi juga diberdayakan untuk menjadi agen perubahan bagi masa depan mereka.

Sebelum dialog utama, pagi hingga siang hari diselenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Pembelajaran CSO. FGD ini menghadirkan perwakilan dari Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Medan, Save The Children Indonesia, dan Yayasan CAPPA sebagai pemantik diskusi. Mereka berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam mengadvokasi hak-hak anak serta mendorong partisipasi mereka dalam isu lingkungan dan pangan.
Pada sesi dialog multi-pihak di siang harinya, beragam pemangku kepentingan yang berkomitmen terhadap hak anak dan kelestarian lingkungan berkumpul. Hadir perwakilan dari pemerintah pusat, yaitu Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), serta pemerintah daerah dari Kabupaten Sarolangun, yaitu dari Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (DP3A), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Ketahanan Pangan dan dari KPHP Sarolangun Hilir.
Organisasi internasional UNICEF, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabupaten Sarolangun, serta perwakilan dari sektor swasta Asia Pulp & Paper (APP) turut menjadi pemantik diskusi. Berbagai organisasi masyarakat sipil dari Jambi dan daerah lain, seperti Sokola Institute, Pundi Sumatera, Wanita Alam Lestari, Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Medan, dan Yayasan Setara Jambi, juga berkontribusi aktif. Tidak ketinggalan, para praktisi pendidikan, guru dari Sepintun, pengelola rumah baca komunitas yaitu Rumah Baca Jambi Kota Seberang dan Rumah Baca Madani Sarolangun, dan dari PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) dan yang terpenting, perwakilan murid pemenang lomba yang ikut hadir pada saat penyerahan hadiah pemenang,
Anak-anak bukanlah objek pasif dari kepentingan orang dewasa, melainkan subjek yang memiliki hak untuk berperan aktif dalam pembangunan,” ujar Kepala Sekretariat Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi, Bapak Muhammad Zuhdi. Di tengah ancaman krisis ekologi, suara dan partisipasi anak-anak dalam menjaga lingkungan hidup serta kedaulatan pangan lokal menjadi sangat relevan.
Lelaki yang akrab disapa Cik Edi ini juga menyampaikan, “Melalui kegiatan ini, kami ingin membuka ruang yang lebih luas bagi mereka untuk berinovasi dan berkontribusi secara kreatif.” Beliau menutup sambutannya dengan menekankan bahwa kehadiran multi-pihak, mulai dari kementerian hingga komunitas akar rumput dan anak-anak itu sendiri, adalah bukti nyata bahwa kolaborasi adalah kunci untuk mencapai tujuan bersama.










