WALHI Jambi : Krisis Iklim di Depan Mata, Nelayan Pesisir Kuala Tungkal Butuh Solusi Segera

Avatar

- Redaksi

Minggu, 10 Agustus 2025 - 19:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nelayan tradisional di pesisir Kuala Tungkal bersiap melaut di tengah cuaca tak menentu, salah satu dampak nyata krisis iklim yang kian memukul kehidupan masyarakat pesisir.

Nelayan tradisional di pesisir Kuala Tungkal bersiap melaut di tengah cuaca tak menentu, salah satu dampak nyata krisis iklim yang kian memukul kehidupan masyarakat pesisir.

LIPUTANTANJAB.COM – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jambi menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Tanjung Jabung Barat ke-60 seharusnya menjadi momentum penting untuk mengambil langkah nyata menghadapi krisis iklim, khususnya di wilayah pesisir Kuala Tungkal. WALHI Jambi menilai, krisis iklim sudah menjadi ancaman langsung bagi keberlangsungan hidup masyarakat pesisir, dan tidak bisa lagi dipandang sebagai isu masa depan.

“Banjir rob yang makin sering terjadi, cuaca ekstrem yang mengacaukan jadwal melaut, dan naiknya suhu air laut yang memaksa ikan-ikan menjauh ke laut dalam adalah bukti nyata bahwa krisis iklim sudah di depan mata. Ini bukan sekadar teori, tapi fakta yang sedang memukul kehidupan nelayan setiap hari,” ujar Direktur WALHI Oscar Anugerah.”

Dampak Nyata di Lapangan
Berdasarkan catatan WALHI Jambi, melalui jaringan Mapala Pamsaka (Pecinta Alam Mahasiswa Iai An Nadwah Kuala Tungkal), dalam tiga tahun terakhir, intensitas banjir rob di pesisir Kuala Tungkal meningkat hingga 40%, dengan durasi genangan yang lebih lama dibandingkan lima tahun belakangan. Cuaca buruk di musim angin utara kini memaksa sebagian nelayan berhenti melaut selama berminggu-minggu, mengurangi pendapatan hingga 50%.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Abdi, nelayan tradisional dari Parit 9 Kuala Tungkal, mengaku kini harus melaut hingga dua kali lebih jauh dari biasanya. “Dulu, cuma 5 mil dari bibir pantai sudah dapat ikan banyak. Sekarang, harus sampai 10–12 mil. BBM makin mahal, hasilnya malah berkurang,” ungkapnya.

Kondisi ini memukul ekonomi keluarga nelayan dan mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk biaya pendidikan anak.

Dalam hal ini, WALHI Jambi mendesak Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat untuk keluar dari zona seremoni dan retorika. HUT ke-60 ini harus menjadi titik balik untuk menghadirkan kebijakan adaptasi dan mitigasi yang berpihak kepada rakyat pesisir.

Salah satu langkah konkret yang dapat segera diambil adalah mengembangkan armada perahu nelayan berbahan bakar energi baru terbarukan (EBT). Solusi ini dapat menekan biaya operasional, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan membantu nelayan beradaptasi dengan perubahan pola musim dan cuaca.

“Kami mengingatkan, ungkap Oscar bahwa krisis iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tapi persoalan ekonomi, pendidikan, dan keadilan sosial. Pemerintah daerah jangan hanya menjadikan HUT ini sekadar panggung potong tumpeng, sementara rakyat pesisir tenggelam dalam masalah yang nyata.”

WALHI Jambi akan terus mengawal kebijakan dan langkah pemerintah daerah dalam menghadapi krisis iklim, serta memastikan keberpihakan kepada masyarakat pesisir yang menjadi garda depan yang terdampak.

Narahubung: +62 811-7492-662 (Oscar Anugerah)LIPUTANTANJAB.COM – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jambi menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Tanjung Jabung Barat ke-60 seharusnya menjadi momentum penting untuk mengambil langkah nyata menghadapi krisis iklim, khususnya di wilayah pesisir Kuala Tungkal. WALHI Jambi menilai, krisis iklim sudah menjadi ancaman langsung bagi keberlangsungan hidup masyarakat pesisir, dan tidak bisa lagi dipandang sebagai isu masa depan.

“Banjir rob yang makin sering terjadi, cuaca ekstrem yang mengacaukan jadwal melaut, dan naiknya suhu air laut yang memaksa ikan-ikan menjauh ke laut dalam adalah bukti nyata bahwa krisis iklim sudah di depan mata. Ini bukan sekadar teori, tapi fakta yang sedang memukul kehidupan nelayan setiap hari,” ujar Direktur WALHI Oscar Anugerah.”

Dampak Nyata di Lapangan
Berdasarkan catatan WALHI Jambi, melalui jaringan Mapala Pamsaka (Pecinta Alam Mahasiswa Iai An Nadwah Kuala Tungkal), dalam tiga tahun terakhir, intensitas banjir rob di pesisir Kuala Tungkal meningkat hingga 40%, dengan durasi genangan yang lebih lama dibandingkan lima tahun belakangan. Cuaca buruk di musim angin utara kini memaksa sebagian nelayan berhenti melaut selama berminggu-minggu, mengurangi pendapatan hingga 50%.

Abdi, nelayan tradisional dari Parit 9 Kuala Tungkal, mengaku kini harus melaut hingga dua kali lebih jauh dari biasanya. “Dulu, cuma 5 mil dari bibir pantai sudah dapat ikan banyak. Sekarang, harus sampai 10–12 mil. BBM makin mahal, hasilnya malah berkurang,” ungkapnya.

Kondisi ini memukul ekonomi keluarga nelayan dan mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk biaya pendidikan anak.

Dalam hal ini, WALHI Jambi mendesak Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat untuk keluar dari zona seremoni dan retorika. HUT ke-60 ini harus menjadi titik balik untuk menghadirkan kebijakan adaptasi dan mitigasi yang berpihak kepada rakyat pesisir.

Salah satu langkah konkret yang dapat segera diambil adalah mengembangkan armada perahu nelayan berbahan bakar energi baru terbarukan (EBT). Solusi ini dapat menekan biaya operasional, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan membantu nelayan beradaptasi dengan perubahan pola musim dan cuaca.

“Kami mengingatkan, ungkap Oscar bahwa krisis iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tapi persoalan ekonomi, pendidikan, dan keadilan sosial. Pemerintah daerah jangan hanya menjadikan HUT ini sekadar panggung potong tumpeng, sementara rakyat pesisir tenggelam dalam masalah yang nyata.”

WALHI Jambi akan terus mengawal kebijakan dan langkah pemerintah daerah dalam menghadapi krisis iklim, serta memastikan keberpihakan kepada masyarakat pesisir yang menjadi garda depan yang terdampak.

Narahubung: +62 811-7492-662 (Oscar Anugerah)

Berita Terkait

Edukasi Migas Bagi Generasi Muda Disambut Antusias Ratusan Pelajar SMA dan SMK se-Kota Jambi
Sembilan Hari Asap di TNBS, Sekber PSDH Jambi Minta Pemerintah Bertanggung Jawab
Api Masih Menyala, Karhutla di Parit Bingkok Tanjabbar Ancam Perkebunan Warga
Mapala Pamsaka dan Universitas Islam An-Nadwah Kuala Tungkal Perkuat Gerakan Penghijauan di Lingkungan Kampus
FAJI Tanjab Barat Kembali Susuri Sungai Tantang, Dorong Restorasi dan Potensi Wisata Alam
Koalisi STuEB Desak Pemerintah Percepat Transisi ke Energi Bersih, Soroti Dugaan Dampak PLTU di Sumatera
MAPALA PAMSAKA Lepas Enam Atlet Ikuti Lomba Lintas Alam AOPGI 2026 di Jambi
Jalur Terlarang Simpang Pete Diduga Jadi Ladang Bisnis, Truk Batu Bara Masih Bebas Melintas
Berita ini 61 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 17:35 WIB

UINKA Serahkan 14 Mahasiswa KKN di Desa Kempas Jaya, Siap Laksanakan Pengabdian kepada Masyarakat

Minggu, 25 Oktober 2026 - 16:34 WIB

AOPGI dan ALTI Tanjab Barat Latihan Bersama, Siapkan Penggiat Olahraga Hadapi FORPROV KORMI Jambi 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:29 WIB

Kabut Asap Selimuti Kuala Tungkal, Penanganan dan Dampak Kesehatan Jadi Perhatian

Minggu, 18 Oktober 2026 - 20:38 WIB

Peduli Dampak Karhutla, BB 1% MC Jambi Turun ke Jalan Bagikan Ribuan Masker

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:13 WIB

Karang Taruna Soroti Segudang Masalah PT SLUM: Kematian Pekerja, HGU, hingga Pasokan Sawit dari Kawasan Hutan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:05 WIB

Optimalkan Fungsi Kantor, GAPERKASINDO Jambi Benahi Gedung Dua Lantai

Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Kasus Ikhwan Belum Tuntas, OJK Turun Memfasilitasi, Ombudsman Segera Bahas Laporan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:51 WIB

Praktik Kotor Leasing ACC di Bungo, Korban Minta Polisi Turun Tangan: Ini Kronologinya?

Berita Terbaru