LIVE TV
Isu Tak Berdasar Yang Menerpa Kapolsek Tebing Tinggi Ternyata Hoax Menindaklanjuti Arahan Presiden, Polsek Tebing Tinggi Laksanakan Kurve Cinta Ditolak, Seorang Pria Tewas Gantung Diri Di Tanjab Barat Kapolsek Tebing Tinggi Pimpin Ungkap Kasus Pencurian Aki Mobil Yang Sering Meresahkan Masyarakat Jaringan Pemantau Kewenangan (JPK) Tanjab Barat Survei Produk Bahan Pokok Masyarakat di Pasar Ritel Modern Kuala Tungkal

Home / Lingkungan

Minggu, 10 Agustus 2025 - 19:28 WIB

WALHI Jambi : Krisis Iklim di Depan Mata, Nelayan Pesisir Kuala Tungkal Butuh Solusi Segera

Nelayan tradisional di pesisir Kuala Tungkal bersiap melaut di tengah cuaca tak menentu, salah satu dampak nyata krisis iklim yang kian memukul kehidupan masyarakat pesisir.

Nelayan tradisional di pesisir Kuala Tungkal bersiap melaut di tengah cuaca tak menentu, salah satu dampak nyata krisis iklim yang kian memukul kehidupan masyarakat pesisir.

LIPUTANTANJAB.COM – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jambi menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Tanjung Jabung Barat ke-60 seharusnya menjadi momentum penting untuk mengambil langkah nyata menghadapi krisis iklim, khususnya di wilayah pesisir Kuala Tungkal. WALHI Jambi menilai, krisis iklim sudah menjadi ancaman langsung bagi keberlangsungan hidup masyarakat pesisir, dan tidak bisa lagi dipandang sebagai isu masa depan.

“Banjir rob yang makin sering terjadi, cuaca ekstrem yang mengacaukan jadwal melaut, dan naiknya suhu air laut yang memaksa ikan-ikan menjauh ke laut dalam adalah bukti nyata bahwa krisis iklim sudah di depan mata. Ini bukan sekadar teori, tapi fakta yang sedang memukul kehidupan nelayan setiap hari,” ujar Direktur WALHI Oscar Anugerah.”

Dampak Nyata di Lapangan
Berdasarkan catatan WALHI Jambi, melalui jaringan Mapala Pamsaka (Pecinta Alam Mahasiswa Iai An Nadwah Kuala Tungkal), dalam tiga tahun terakhir, intensitas banjir rob di pesisir Kuala Tungkal meningkat hingga 40%, dengan durasi genangan yang lebih lama dibandingkan lima tahun belakangan. Cuaca buruk di musim angin utara kini memaksa sebagian nelayan berhenti melaut selama berminggu-minggu, mengurangi pendapatan hingga 50%.

Abdi, nelayan tradisional dari Parit 9 Kuala Tungkal, mengaku kini harus melaut hingga dua kali lebih jauh dari biasanya. “Dulu, cuma 5 mil dari bibir pantai sudah dapat ikan banyak. Sekarang, harus sampai 10–12 mil. BBM makin mahal, hasilnya malah berkurang,” ungkapnya.

Kondisi ini memukul ekonomi keluarga nelayan dan mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk biaya pendidikan anak.

Dalam hal ini, WALHI Jambi mendesak Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat untuk keluar dari zona seremoni dan retorika. HUT ke-60 ini harus menjadi titik balik untuk menghadirkan kebijakan adaptasi dan mitigasi yang berpihak kepada rakyat pesisir.

Baca Juga  MAPALA OASE dan WALHI Gelar Dialog Kebijakan Industri, Kritik Menguat atas Tertutupnya Pemerintah

Salah satu langkah konkret yang dapat segera diambil adalah mengembangkan armada perahu nelayan berbahan bakar energi baru terbarukan (EBT). Solusi ini dapat menekan biaya operasional, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan membantu nelayan beradaptasi dengan perubahan pola musim dan cuaca.

“Kami mengingatkan, ungkap Oscar bahwa krisis iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tapi persoalan ekonomi, pendidikan, dan keadilan sosial. Pemerintah daerah jangan hanya menjadikan HUT ini sekadar panggung potong tumpeng, sementara rakyat pesisir tenggelam dalam masalah yang nyata.”

WALHI Jambi akan terus mengawal kebijakan dan langkah pemerintah daerah dalam menghadapi krisis iklim, serta memastikan keberpihakan kepada masyarakat pesisir yang menjadi garda depan yang terdampak.

Narahubung: +62 811-7492-662 (Oscar Anugerah)LIPUTANTANJAB.COM – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jambi menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Tanjung Jabung Barat ke-60 seharusnya menjadi momentum penting untuk mengambil langkah nyata menghadapi krisis iklim, khususnya di wilayah pesisir Kuala Tungkal. WALHI Jambi menilai, krisis iklim sudah menjadi ancaman langsung bagi keberlangsungan hidup masyarakat pesisir, dan tidak bisa lagi dipandang sebagai isu masa depan.

“Banjir rob yang makin sering terjadi, cuaca ekstrem yang mengacaukan jadwal melaut, dan naiknya suhu air laut yang memaksa ikan-ikan menjauh ke laut dalam adalah bukti nyata bahwa krisis iklim sudah di depan mata. Ini bukan sekadar teori, tapi fakta yang sedang memukul kehidupan nelayan setiap hari,” ujar Direktur WALHI Oscar Anugerah.”

Dampak Nyata di Lapangan
Berdasarkan catatan WALHI Jambi, melalui jaringan Mapala Pamsaka (Pecinta Alam Mahasiswa Iai An Nadwah Kuala Tungkal), dalam tiga tahun terakhir, intensitas banjir rob di pesisir Kuala Tungkal meningkat hingga 40%, dengan durasi genangan yang lebih lama dibandingkan lima tahun belakangan. Cuaca buruk di musim angin utara kini memaksa sebagian nelayan berhenti melaut selama berminggu-minggu, mengurangi pendapatan hingga 50%.

Baca Juga  Polres Tanjab Barat Berhasil Amankan Terduga Pelaku Penyalahgunaan BBM Solar Bersubsidi

Abdi, nelayan tradisional dari Parit 9 Kuala Tungkal, mengaku kini harus melaut hingga dua kali lebih jauh dari biasanya. “Dulu, cuma 5 mil dari bibir pantai sudah dapat ikan banyak. Sekarang, harus sampai 10–12 mil. BBM makin mahal, hasilnya malah berkurang,” ungkapnya.

Kondisi ini memukul ekonomi keluarga nelayan dan mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk biaya pendidikan anak.

Dalam hal ini, WALHI Jambi mendesak Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat untuk keluar dari zona seremoni dan retorika. HUT ke-60 ini harus menjadi titik balik untuk menghadirkan kebijakan adaptasi dan mitigasi yang berpihak kepada rakyat pesisir.

Salah satu langkah konkret yang dapat segera diambil adalah mengembangkan armada perahu nelayan berbahan bakar energi baru terbarukan (EBT). Solusi ini dapat menekan biaya operasional, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan membantu nelayan beradaptasi dengan perubahan pola musim dan cuaca.

“Kami mengingatkan, ungkap Oscar bahwa krisis iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tapi persoalan ekonomi, pendidikan, dan keadilan sosial. Pemerintah daerah jangan hanya menjadikan HUT ini sekadar panggung potong tumpeng, sementara rakyat pesisir tenggelam dalam masalah yang nyata.”

WALHI Jambi akan terus mengawal kebijakan dan langkah pemerintah daerah dalam menghadapi krisis iklim, serta memastikan keberpihakan kepada masyarakat pesisir yang menjadi garda depan yang terdampak.

Narahubung: +62 811-7492-662 (Oscar Anugerah)

Share :

Baca Juga

Lingkungan

Koalisi STuEB Desak Pemerintah Audit dan Tindak Dugaan Pencemaran PLTU Batubara di Sumatera

Lingkungan

Ekonom ini Duga Kasus Batubara Bengkulu Bisa Terjadi Jambi, Minta Kejagung Beri Atensi Khusus

Lingkungan

FAJI Tanjab Barat dan Mapala Pamsaka Kembali Telusuri Potensi Wisata Arung Jeram Sungai Tantang di Desa Suban

Lingkungan

Waspadai Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai Manuver Mengaburkan Agenda Utama Membangun Stokfile dan TUKS

Mapala

MAPALA PAMSAKA Lepas Enam Atlet Ikuti Lomba Lintas Alam AOPGI 2026 di Jambi

Lingkungan

Opini : Kolaborasi Penggiat Lingkungan dan Pemerintah Kunci Masa Depan Hijau Jambi

Lingkungan

MAPALA Pamsaka Eksplorasi Goa di Bukit Bakar, Temukan Keanekaragaman Alam yang Masih Alami

Lingkungan

Yayasan CAPPA Gelar Dialog: Dorong Kebijakan Penguatan Peran Anak dalam Pembanguna
error: Maaf Jangan Biasakan Copas Berita !!