LIVE TV
Menindaklanjuti Arahan Presiden, Polsek Tebing Tinggi Laksanakan Kurve Cinta Ditolak, Seorang Pria Tewas Gantung Diri Di Tanjab Barat Kapolsek Tebing Tinggi Pimpin Ungkap Kasus Pencurian Aki Mobil Yang Sering Meresahkan Masyarakat Unit Reskrim Polsek Tebing Tinggi Ungkap Kasus Penyalahgunaan Narkotika Jenis Sabu Kapolres Tanjab Barat AKBP Agung Basuki Berikan Penghargaan Kepada Anggotanya Yang Berprestasi

Home / Events

Sabtu, 27 Desember 2025 - 01:16 WIB

PEREMPUAN BERDAYA, PEREMPUAN DIBELA: Membuka Ruang Aman bagi Suara yang Lama Dibungkam

LIPUTANTANJAB.COM — Isu kekerasan, pelecehan seksual, seksisme, dan diskriminasi terhadap perempuan masih menjadi realitas pahit yang terus berulang di berbagai ruang kehidupan. Kekerasan tidak hanya terjadi di ruang publik, tetapi juga kerap bersembunyi di balik pintu rumah, ruang pendidikan, serta relasi yang seharusnya aman. Berangkat dari kegelisahan tersebut, PASANG Social Creative Movement menggelar kegiatan bertajuk “Perempuan Berdaya, Perempuan Dibela #Belat”, sebagai ruang aman bagi perempuan untuk berbagi, belajar, dan saling menguatkan.

Kegiatan ini menghadirkan Novil Cut Nizar, psikolog, serta Raudhah, aktivis perempuan, sebagai narasumber utama. Acara dibuka dengan pembacaan narasi kasus kekerasan seksual yang menggambarkan pengalaman korban sejak usia anak hingga dewasa—sebuah kisah yang merepresentasikan ribuan suara perempuan yang selama ini terpaksa bungkam demi menjaga “nama baik” dan karena tekanan sosial.

Narasi pembuka tersebut menggugah emosi audiens dan menjadi pengingat bahwa luka terdalam korban sering kali tidak hanya berasal dari tindakan kekerasan itu sendiri, melainkan juga dari sikap lingkungan yang memilih menutup mata, menyalahkan korban, serta memaksa mereka untuk diam.

Baca Juga  Bupati Tanjab Barat Hadiri Sosialisasi Pendidikan Politik Bagi Perempuan

Dalam sesi bedah kasus, Raudhah menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki sejumlah regulasi yang berpihak pada korban, di antaranya Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Pendidikan serta Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS). Namun, lemahnya implementasi dan minimnya sosialisasi menyebabkan banyak korban tidak mengetahui ke mana harus melapor dan bagaimana memperoleh perlindungan.

“Yang dibutuhkan korban bukan sekadar janji atau komitmen, tetapi implementasi nyata,” tegas Raudhah. Ia juga menyoroti pentingnya keberadaan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) di setiap institusi agar korban memiliki arah perlindungan yang jelas.

Sementara itu, Novil Cut Nizar menjelaskan bahwa pelaku kekerasan seksual umumnya berasal dari lingkar terdekat korban dan memiliki relasi kuasa yang lebih tinggi, seperti anggota keluarga atau tenaga pendidik. Kondisi tersebut membuat korban berada dalam posisi sangat rentan, terlebih ketika faktor protektif seperti dukungan keluarga dan lingkungan tidak memadai.

Diskusi semakin hidup melalui sesi ice breaking dan interaksi langsung dengan peserta. Berbagai pandangan mengenai perempuan, kodrat, peran ganda, hingga hak untuk mengeluh dibahas secara terbuka. Hampir seluruh peserta sepakat bahwa perempuan menjalani banyak peran bukan semata karena kodrat, melainkan akibat tuntutan sosial dan kondisi struktural yang ada.

Baca Juga  Mapala SIGINJAI UNJA Sukses Menapaki Titik Tertinggi Gunung Daik Lingga, Kepulauan Riau

Dalam sesi hukum, narasumber memaparkan berbagai jalur pengaduan dan perlindungan bagi korban, mulai dari UPT Perlindungan Perempuan dan Anak, layanan SAPA 129, aplikasi SINPAN, hingga Rumah Perlindungan Sementara (RPS). Data yang disampaikan juga menunjukkan masih tingginya persoalan struktural, salah satunya tercatat 175 kasus pernikahan di bawah umur di Kabupaten Tanjung Jabung Barat sepanjang tahun 2025.

Menutup acara, Raudhah menekankan bahwa perempuan bukan sekadar simbol, melainkan aktor perubahan. “Perempuan bukan hanya tiang negara, tetapi konseptornya,” ujarnya. Senada, Novil Cut Nizar mengajak masyarakat untuk membangun empati dan berhenti menghakimi korban.

Kegiatan ditutup dengan pembacaan narasi puitis yang menegaskan semangat women support women serta harapan akan masa depan yang lebih adil. Sebab ketika perempuan berdaya, perempuan harus dibela. (Ril)

Share :

Baca Juga

Events

Ternyata Segini Bayaran Rara Sang Pawang Hujan di Sirkuit Mandalika

Events

Ranking MTQ Terbaik Diraih Kabupaten Tanjab Barat Dengan Nilai 113

Events

AOPGI Tanjab Barat Kembali Kibarkan Bendera di Puncak Gunung Kerinci

Events

Bupati Tanjab Barat Secara Resmi Buka Lomba Burung Berkicau Bupati Cup Tahun 2021

Events

Bupati Tanjab Barat Buka Langsung Seminar Al-Quran Rangkian Kegiatan MTQ

Events

Ngopi di Kebun Kopi Liberika ke-3 Kembali diselenggarakan di Sungai Haji

Events

Wabup Tanjab Barat, Persiapan MTQ Ke-50 Sudah Mencapai 90 Persen

Events

FAJI Tanjab Barat dan MAPALA Pamsaka Tanamkan Nilai Islami Lewat Pembekalan Dasar Arung Jeram
error: Maaf Jangan Biasakan Copas Berita !!